Kenapa Penulis Berbicara Lambat?

in #indonesia7 years ago

image
Foto: Majalah Panji Maajarakat, 1969/ Koleksi @tinmiswary

Tuan dan Puan Steemians…

Jika diperhatikan, kebanyakan penulis terlihat sulit bicara di depan umum. Pengertian sulit di sini, bukan berarti dia tidak mampu bicara, tapi gaya bicaranya terlihat lambat.

Kondisi ini tidak hanya dialami oleh penulis-penulis “kecil”, tapi juga penulis besar, di mana mereka terlihat seperti kehabisan bahan ketika berbicara di hadapan hadirin. Namun demikian, kondisi ini tidak dialami oleh semua penulis. Dalam kenyataannya, sebagian penulis justru terlihat lancar berbicara, selancar tulisannya.

Tapi secara umum, kebanyakan penulis memang lambat dalam berbicara. Sebagai contoh, gaya bicara Mohammad Hatta yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Pertama RI dan juga salah seorang proklamator yang mendampingi Soekarno. Banyak sejarawan menyebut Hatta “kurang menarik” saat berpidato dan bicaranya lambat.

Saya sendiri juga sering memperhatikan beberapa penulis terlihat “gagap” ketika bicara di depan umum, padahal gaya tulisannya terlihat mengalir mengalun, nyaris tanpa kendala.

Tapi kenapa ketika berbicara gayanya jadi berubah dan berbeda sekali dengan tulisan-tulisannya? Sampai-sampai ada “mitos” bahwa penulis memang “tidak pandai” bicara, dan sebaliknya orator “tidak pandai menulis.” Benarkah mitos ini? Saya lebih suka menjawab “tidak benar.”

Lantas, kenapa penulis berbicara lambat? Tentu ada ragam jawaban yang dapat diajukan. Dan jawaban tersebut tentunya tetap terbuka untuk didiskusikan. Tidak ada monopoli di sini, semua kita berhak mengajukan jawaban menurut perspektif masing-masing.

Menurut saya, seorang penulis adalah sosok yang cenderung hati- hati. Tidak hanya hati- hati dalam menulis, tapi juga hati-hati dalam memilih kata-kata. Bahkan hati-hati dalam bertindak. Istilah kerennya, tidak keureupam keureupum, apalagi kh'am kh'um. Dengan kata lain penulis itu cenderung "seulow".

Sebelum menulis dan merangkai kata, seorang penulis sudah terlebih dahulu melalui beberapa tahapan, mulai dari berguru, membaca, mendengar, melihat, bertanya dan berpikir, baru kemudian memutuskan untuk menulis atau tidak. Dan, menulis adalah tahapan terakhir.

Tidak hanya itu, si penulis juga bertindak sebagai pembaca pertama, sebelum tulisan-tulisannya dibaca orang lain. Ini adalah bentuk kehati-hatian penulis.

Atas dasar inilah saya berkesimpulan bahwa penulis adalah sosok yang sangat hati-hati, dan wajib hati-hati.

Kondisi ini tentunya berbeda dengan sebagian (mungkin oknum) "orator" yang terbiasa berbicara "sebebasnya," sehingga tidak jarang kita temukan tragedi salah ucap dan keseleo lidah yang akhirnya berujung pada klarifikasi yang tiada berkesudahan.

Berbeda dengan orator yang mulutnya bisa berkomat-kamit cepat dengan suara yang mengalir deras, penulis justru berhati-hati saat berbicara.

Seperti menulis, dalam berbicara pun, seorang penulis sangat berhati-hati dan berusaha memilih kata-kata yang tepat agar informasi yang ia sampaikan tidak bias.

Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan penulis terkesan berbicara lambat dan suaranya mengalun pelan, bukan karena ia kekurangan bahan, tapi karena ia menyeleksi bahan yang akan ia sampaikan.

image
@tinmiswary (1999)

Demikian dulu Tuan dan Puan Steemians, lain waktu disambung kembali...

Sort:  

Tokoh lain yang juga "lambat berbicara" adalah seorang penulis kompas, M Alfan Alfian. Dalam suatu forum intermediate training HMI di Tasikmalaya, Jawa Barat tahun 2001, di awal menyampaikan materi beliau meminta maaf kepada peserta. Permintaan maaf tersebut tidah terlepas dari "lemahnya" (pengakuan) beliau dalam berkata-kata.

"Peserta sekalian, saya mohon maaf jika dalam penyampaian materi nanti kurang pas. Saya akui, menyampaikan buah pikiran dengan berbicara sangatlah susah bagi saya dan sulit dipahami. Tapi jika saya berkesempatan 30 menit saja, saya akan lebih mudah menuliskan pikiran2 saya dan saya yakin adik2 peserta akan lebih mudah memahaminya".

Demikian kalimat yang pernah beliau sampaikan skitar 17 tahun lalu dan masih sangat saya ingat.

Mantap reputasi ka 28👍😂

Berkat ta tem vote dan komen post gob. He...

Berbicaralah, jangan selalu menutup mulutmu. He...

Omak, ka 47 lagoe reputasi.

haha siat teuk 50