Budaya Seumeuleung
Dulu, di puncak Gunung Geurutee ada sebuah bangunan tempat istirahat yang dibangun Belanda. Bangunan ini terletak agak sedikit mendaki dan harus menaiki beberapa anak tangga dari batu. Bangunan itu tampaknya telah rusak ditelan masa. Di tempat yang sama, kini sudah dibangun bangunan lain.
Selain itu, di pinggir jalan di atas puncak Geurutee sekarang juga telah dibangun warung-warung kecil yang banyak disinggahi pengguna jalan, yang selalu mampir untuk istirahat dan menikmati keindahan panorama Samudra Hindia dari puncak gunung.
Ketika turun dari Gunung Geurutee inilah kita dapati kampung Ujung Seudeun tempat terdamparnya kapal Portugis di masa silam.
Kuala Daya Lamno, sekitar 80 kilometer dari Banda Aceh, dulu merupakan kerajaan yang maju di wilayah pantai barat Aceh, Kerajaan Daya ketika itu diperintah raja bernama Meureuhom Daya, lebih dikenal dengan Poteumeurehom.
Sampai sekarang di Kuala Daya, setahun sekali selalu diadakan upacara ritual yang disebut Seumeuleung. Upacara adat ini diadakan setiap tahun pada bulan Zulhijjah, tepatnya 10-13 Zulhijjah.
Upacara Seumeuleung ini sebuah perayaan adat turun-temurun yang dilaksanakan keturunan Poteumeurehom (almarhum Yang Mulia) Sultan Alaidin Riayatsyah, penguasa negeri Daya (1482-1508). Upacara ritual adat Seumeulueng ini dihadiri ribuan masyarakat setempat serta pengunjung dari kabupaten lain. Tradisi perayaan adat ini diadakan di kaki bukit Kandang, yaitu di bawah kompleks pemakaman raja yang pernah memerintah di negeri Daya Lamno pada abad-abad silam.
Setiap tahun pada bulan Zulhijjah, upacara ritual ini selalu disuguhkan dengan tatacara yang telah menjadi adat budaya setempat, yang mendapat perhatian dan sambutan meriah masyarakat. Dalam upacara ini, salah seorang keturunan raja Meureuhom Daya berperan sebagai sultan, yang lainnya sebagai panglima, khadam, wazir muluk, dan khatibulmuluk, dengan pendamping seorang petua kawai dalam dan seorang imeum chik (pimpinan agama).
Mereka semua memakai pakaian kebesaran dengan atribut lengkap menurut fungsi masing-masing seperti yang pernah berlaku pada masa pemerintahan Poteumeureuhom.
Hi! I am a robot. I just upvoted you! I found similar content that readers might be interested in:
https://acehtourismagency.blogspot.com/2012/11/dari-ikan-panggang-segar-hingga-adat.html