Di halaman depan rumah, agak ke pojok, di antara sela-sela bebatuan pondasi, tumbuhlah sebatang pohon kelengkeng. Keberadaannya di tempat yang tak biasa ini terasa kontras, karena pohon tersebut tumbuh di tanah yang keras dan tandus, di antara beton yang padat dan bebatuan yang seakan tak memberi ruang bagi kehidupan. Meskipun begitu, pohon kelengkeng ini tetap bertahan, dengan segala keterbatasan yang ada.
Seingatku, pohon kelengkeng ini sudah cukup lama ada, mungkin sekitar dua tahun. Setiap kali pohon ini menjulang tinggi, dengan daun-daun yang semakin rimbun, aku selalu memangkas batang dan daun-daunnya, berusaha mengendalikan pertumbuhannya. Meskipun demikian, hingga kini, pohon itu tetap tampak kecil dan tak kunjung besar.
Namun, beberapa minggu yang lalu, aku mencoba pendekatan yang berbeda. Aku melukai beberapa ruas pada batang pohon tersebut, berusaha merangsang pertumbuhannya dengan cara yang tidak biasa. Dan seakan-akan ada keajaiban, tunas-tunas baru mulai bermunculan di antara ruas-ruas yang sebelumnya aku rusak. Tumbuhlah calon batang dan daun yang masih kecil, namun penuh harapan, menunjukkan bahwa pohon ini mungkin memiliki potensi untuk berkembang lebih jauh meski berada di tempat yang tak ideal.
Seperti halnya kehidupan, terkadang kita tumbuh di tempat yang tidak cukup ideal, namun harus tetap kita lalui bersama.
Sekian semoga bermanfaat.
This report was published via Actifit app (Android | iOS). Check out the original version here on actifit.io